Masih teringat jelas dibenakku saat dulu kita duduk bersama di setiap waktu ba’da maghrib tiba..
Dan teringat juga ketika kami tertawa bersama ditaman belakang musholah itu dimana tempat kami bermain dengan teman-teman lainnya.
Ya, dia adalah sahabat kecil ku..
Sahabat yg begitu aku kagumi karena ketegarannya dan kepandaiannya.
Dulu kami terbiasa mengaji bersama di mushollah itu yang kebetulan guru ngaji kami adalah bapak ku sendiri.
Ia memang lebih pandai dalam mengaji, sering bapak ku memuji kepandaiannya dan menyarankan aku untuk banyak belajar dari nya.
Meski usianya hanya 1 tahun lebih tua dari ku tapi ia bersikap jauh lebih dewasa dari usianya. Mungkin karena masalah keluarga yg membuatnya lebih dewasa. Dia begitu tegar menghadapi masalahnya.
Pada saat itu usia nya masih sekitar 13 tahun dan ia baru menginjak kelas 1 SMP sedangkan aku masih duduk di kelas 6 SD.
Sejak kecil aku memang suka menulis, buku diary kesayanganku yg selalu menjadi curahan hati ku maklum saja aku memang agak pendiam jadi hanya buku dan pena lah yg menjadi teman curhatku. Dan malam itu tak seperti biasanya aku menuliskan sesuatu tentang perasaan ku untuk nya. Tentang persahabatan kami dan tentang ketakutan ku akan kehilangan dirinya..
Sungguh aku tak ingin kehilangan dirinya sebagai sahabat terbaikku.
Keesokan harinya aku berinisiatif untuk meminta ia menuliskan sesuatu untuk ku.
Apapun tulisan yang ia buat untuk ku aku tak peduli yang penting aku ingin suatu hari nanti jika kami tidak bersama lagi aku tetap bisa membaca tulisan darinya.
Ia pun setuju dan memberikan tulisannya untukku, tak banyak yg ia tuliskan untuk ku karena aku tahu dia tidak begitu suka dengan menulis namun ia menuliskan beberapa kata yang membuat ku hingga kini selalu merindukannya. :
“ Jangan pernah tinggalin aku ya, karena aku juga gak akan ninggalin kamu “
Ya, hanya kata-kata itulah yg ia tuliskan utukku.
Singkat , sangat singkat memang. Tapi aku tak menyangka bahwa ia juga merasakan hal yg sama dengan yg aku rasakan yaitu kami sama-sama takut kehilangan .
Semakin hari Entah kenapa aku begitu takut akan kehilangan dirinya.
Berkali –kali aku mencoba tuk yakinkan diriku bahwa kami akan selalu bersama .
Hari ini adalah hari yg membuat ku begitu marah dan kecewa dengan dirinya, saat ba’da maghrib tiba dimana biasanya kami selalu bersama namun ia tak juga datang. “Mungkin dia sedang pergi”kata teman ku .
Ok, alas an itu mungkin masuk akal juga meski aku kecewa karena ia tak mengabarkan aku kenapa ia tak datang saat itu. Kemudian keesokan harinya aku sangat berharap bahwa kita pasti bertemu dan bercanda –tawa bersama lagi namun ternyata ia tak lagi datang malam itu. Kali ini aku tak marah justru aku sedih dan menghawatirkan keadaanya, jika memang dia sakit ia pasti ada di rumah dan aku memberanikan diri untuk bertanya ke tetangga sebelah rumahnya dan inilah yg membuat ku sangat kecewa dengan dirinya bahwa kemarin ia pergi ke bandung bersama saudaranya dan akan tinggal disana selamanya.
Sungguh hatiku begitu kecewa mengetahui hal ini.apalagi karena ia tak memberi tahu ku sebelumnya..
Sampai rumah aku langsung mengambil tulisan itu dan segera merobek2nya lalu aku buang kertas-kertas itu. Menurutku tulisan itu tak ada artinya lagi karena apa yang ia tuliskan justru sebaliknya. Ia justru meninggalkanku.
Aku begitu kecewa sangat kecewa hingga sejak saat itu aku tak ingin lagi punya sahabat, karena menurutku di dunia ini tak ada sahabat sejati yang yang tak akan meninggalkan kita...
Bersambung ................................
hehehheh.....
Part 2
hmm...
BalasHapusbarusan aku mimpi ketemu kamu sob..
hmmm....
Hapusketemu dimana sob?di widuri aja ya..
hehehe..